TANGGULANGI DAMPAKNYA, PULIHKAN ASANYA

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dampak bencana bukan sekadar korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, melainkan juga dampak yang terjadi pada korban selamat pascagempa.

mitigasi-bencana

Dok. pikiran-rakyat.com

Indonesia punya sejarah panjang dengan bencana alam dan tidak bisa serta merta lepas darinya. Hal ini terjadi karena secara geografis, Indonesia terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik, yakni Benua Asia, Benua Australia, Lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Belum lagi, iklim tropis yang dimiliki Indonesia turut serta menunjang terjadinya bencana alam.

Belum lama ini, BMKG mencatat gempa dengan kekuatan 6.4 SR yang mengguncang Lombok dan menewaskan lebih dari lima ratus jiwa. Menyusul Sulawesi Tengah, tepatnya Palu, Donggala, dan sekitarnya. Naasnya, gempa kali itu disusul likuifaksi dan tsunami.

Pengetahuan demikian nampaknya sudah banyak dimiliki masyarakat, yang kemudian melebar pada pengetahuan terhadap jenis-jenis bencana serta tanda-tandanya. Namun, masalahnya, pengetahuan mengenai itu saja sepertinya tidak cukup mampu menyelamatkan kita dari bencana alam. Oleh karena itu, kita perlu mengetahui dan membudayakan penanggulangannya, atau yang dikenal dengan istilah mitigasi bencana.

Dilema Mitigasi
Berjejak pada tsunami Aceh 2004, Indonesia semakin gencar dalam melakukan mitigasi bencana. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya tindak lanjut dari pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memiliki fungsi pengoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, dan menyeluruh.

Berbicara tentang mitigasi bencana, saya mencari informasi terkait hal tersebut lewat beberapa media dan situs resmi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Dalam perjalanan, saya menemukan Buku Saku dari BNPB dengan judul Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana (2017). Selain itu, data yang saya dapat dari media banyak memaparkan kritik terhadap lemahnya mitigasi bencana dan juga daftar kegiatan mitigasi bencana dari BPBD Kabupaten Karanganyar.

Adapun empat data dan media yang saya peroleh terkait lemahnya mitigasi bencana adalah VICE.id: Alat Deteksi Dini Tsunami Bukan Juru Selamat (Udah Gitu Rusak Semua Pula), KOMPAS.com: BNPB; Indonesia belum punya standar mitigasi bencana seperti Jepang, Tribunnews.com: Sosialisasi Daerah Rawan Bencana Perlu Ditingkatkan, dan Kumparan.com: BNPB: Budaya Mitigasi Bencana Masyarakat Indonesia Lemah.

Dari hal tersebut, saya pun mulai mengetahui bahwa penyebab utamanya adalah anggaran. Biaya memang kerap kali menjadi kambing hitam bagi tidak terlaksana atau lemahnya suatu kebijakan. Namun, di sini saya bukan hendak menyampaikan itu, melainkan upaya mitigasi dan kaitannya dengan dampak yang terjadi.

Baik dari BNPB, BPBD Karanganyar, maupun media memaparkan mitigasi sebagai upaya penanggulangan bencana untuk mengurangi risikonya. Hal tersebut adalah sosialisasi mitigasi berupa kesiapsiagaan secara fisik saat bencana terjadi dan penempatan alat-alat pendeteksi bencana.

Saya merasa bahwa hal ini belum cukup, mengingat dampak bencana bukan sekadar korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, melainkan juga dampak yang terjadi pada korban selamat pascagempa. Rencana dan cita-cita terkait daerah dan orang-orang terdampak lenyap seketika oleh bencana. Seolah-olah hidup telah gagal dan segala yang telah diusahakan adalah kesiaan belaka. Lebih buruk dari itu, mereka bisa sampai menganggap dunia tidak adil, membencinya, dan lebih memilih untuk mengakhiri hidup saja.

Menanggapi hal tersebut, sebenarnya telah banyak stakeholder yang sigap memberikan layanan dukungan psikologi dengan melakukan PSP (Psikososial Support Program), trauma healing dan treatment terkait lainnya. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia (31/8), menteri sosial menyampaikan, berkaitan dengan trauma healing, sudah ada 85—90 petugas pendamping layanan dukungan psikososial yang disebar di 12 titik di seluruh NTB saat gempa Lombok terjadi.

Pemerintah, lembaga, atau organisasi mana pun bisa saja mengganti rugi harta benda dan lapangan kerja. Namun, bagaimana dengan trauma pascabencana? Tentu tidak ada yang bisa menggantikannya. Hal demikian baik untuk dipelajari. Dampak psikologis berupa trauma, gangguan jiwa, putus asa, dan penyakit psikologis lainnya bukanlah penyakit yang bisa diobati dengan media kedokteran semata, melainkan melalui diri masing-masing. Oleh karena itu, trauma pascabencana tidak mudah disembuhkan jika korban tidak memiliki kesadaran terhadap apa yang dideritanya.

Sementara, yang telah banyak dilakukan dari upaya menanggulangi dampak psikologis adalah penanggulangan pascabencana. Pada kenyataannya, psikologi memiliki potensi besar, yakni dengan berperan serta dalam mitigasi sebelum bencana sebagai psikoedukasi. Hal demikian diharapkan mampu menambah kesadaran terhadap apa yang dialami oleh diri sendiri (sebab, akibat, dan kesempatan). Psikoedukasi juga dapat menyentuh hingga cara mengembangkan sudut pandang manusia dalam menyikapi sebuah bencana sehingga terdampak bencana tidak berlama-lama dalam romantisme kesedihan dan kepiluannya.

Namun demikian, ada dilema yang saya rasakan. Pelaksanaan mitigasi yang sudah ada pun jauh dari optimal.

“Tinggal di Indonesia bersama banyak gempa. Tsunami juga ada di desa dan di kota. Ayo kita siaga agar selamat semua. Lekas-lekas pahami tandanya.”

Kalimat di atas itu lagu mitigasi gempa bumi, loh. Siapa yang sudah pernah tahu? Kalau teman-teman baru saja tahu, maka benar. Mitigasi bencana di Indonesia sangat lemah.

Kalau begini sih, namanya “… menggeret nyawa pada jalan tak ada ujung. Selesai. Mencari awal lagi ….” – SISIR TANAH

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: TANGGULANGI DAMPAKNYA, PULIHKAN ASANYA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/tanggulangi-dampaknya-pulihkan-asanya/