TAROT READING: TREN BARU REMAJA UNGKAPKAN KEGELISAHANNYA

 In Tulisan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Tarot reading atau pembacaan tarot kini tidak hanya dikenal sebagai sarana meramal atau fortune teller yang lekat dengan dunia mistik. Tarot reading ternyata dapat digunakan sebagai sarana pengembangan diri dan konseling untuk membantu mencari pandangan baru dalam menyelesaikan masalah yang ada di kehidupan. Tarot reading juga tidak hanya dilakukan dengan konsultasi secara tatap muka, tetapi kini justru semakin laris karena bisa dijangkau dengan media sosial, seperti Instagram, WhatsApp, dan Line. Tak heran kalau jangkauan penikmat jasa pembacaan tarot kini lebih luas variasi umur dan lokasinya, mulai dari usia 15 hingga 70 tahun, dan dari Aceh hingga Papua. Komunitas yang menaungi pembaca tarot pun kini tumbuh sehat di berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.

Saya berkenalan dengan Kak Danik Yanuar (36 tahun), seorang pembaca tarot profesional yang berdomisili di Yogyakarta. Perempuan yang pembawaannya riang ini akrab dikenal sebagai pembaca tarot favorit remaja. Kurang lebih dalam satu tahun belakangan, Kak Danik sudah membaca lebih dari 750 klien karena dalam satu hari ia dapat membaca 3 hingga 5 klien. Mayoritas klien Kak Danik adalah remaja yang rata-rata berusia 18 tahun hingga 25 tahun. Cara bicara yang lugas, tegas, cerdas, namun juga jenaka, tak membuat Kak Danik menggurui dalam membaca tarot. Sosok seperti Kak Danik inilah yang disukai oleh remaja karena mereka perlu sosok yang pengertian, memahami energi mereka yang meluap-luap, dan memahami keseharian mereka yang kerap diisi dengan galau karena asmara.

Dok. Siti Fata

Yuk, disimak percakapan seru dengan Kak Danik!

Hai Kak, ceritain dong aktivitas sehari-hari Kakak sebagai tarot reader?
Haiii… Sehari-hari biasanya aku mulai dengan meditasi di pagi hari. Lalu, baru deh mulai meet up dengan klien yang sudah janjian dari hari sebelumnya. Siangnya aku pakai buat istirahat. Baru setelah itu sore sampai malam aku melayani klien dari tarot online.

Apa sih, suka dan duka jadi tarot reader?
Banyak sih, kalau sukanya. Salah satunya itu kalau pas ada klien datang dan bilang dia merasa terbantu atas pembacaan tarot kita. Ada klien yang datang dalam kondisi kebingungan sampai dia merasa sulit lepas dari jebakan hidup, lalu setelah melakukan pembacaan tarot, dia jadi lebih optimis untuk menyelesaikan permasalahannya. Cerita-cerita itu bikin aku bahagia. Aku juga dapat banyak teman baru. Dukanya adalah harus selalu siap menerima curhatan orang, seburuk apa pun kondisi kita saat itu.

Paling sering dapat klien perempuan atau laki-laki, Kak?
Kebanyakan perempuan umur 18 hingga 25 tahun.

Wah, masih muda-muda, ya. Biasanya mereka tanya tentang apa, Kak?
Masalah yang paling sering mereka tanyakan untuk konsultasi adalah tentang percintaan dan karir. Usia-usia mereka adalah masa ketika krisis percaya diri meningkat, terutama ketika merasa nggak punya pasangan.

Apa saja yang biasa mereka tanyakan tentang percintaan?
Kapan dapat pacar, bagaimana perasaan cowok yang disuka terhadap mereka, apakah hubungan percintaannya akan awet, mengapa gebetannya berubah sikap, dan sekitar itu. Rata-rata mereka galau dan krisis kepercayaan diri karena melihat temannya sudah punya pacar terlebih dahulu. Lalu mereka merasa, “Kok kayaknya hidup temanku enak ya karena punya pacar”. Sehingga kalau nggak punya pacar, mereka takut dibilang jomblo. Untuk yang sudah berumur 24—25 tahun, mereka biasanya males ditanya kapan nikah.

Apakah dari pertanyaan yang mayoritas sama, jawabannya juga mayoritas sama?
Walaupun pertanyaannya mayoritas sama, tapi jawabannya bisa beragam, tergantung kasus. Misal pertanyaan “Kapan dapat pacar?” bisa dijawab dengan ‘waktu’. Misalnya ternyata bulan Oktober. Atau justru dapat jawaban seperti ini, “Jodoh akan datang jika kamu sudah move on.”

Terus kalau kliennya laki-laki biasanya tanya tentang apa, Kak? Mereka bisa galau juga?
Kalau laki laki biasanya di usia yang sama itu tanya soal pasangan atau soal karir. Iya, laki-laki juga bisa galau dong, kan, mereka juga punya hati. Justru laki-laki lebih lama proses move on-nya karena mereka gengsi buat menunjukkan lukanya. Gengsi ini yang bikin luka mereka nggak sembuh-sembuh. 

Oh gitu, ya …. Memangnya belum move on memengaruhi dapat pasangan ya, Kak? Bagi tips move on dong, Kak, berdasarkan pengalaman kakak membaca tarot selama ini.
Iya, belum move on jelas memengaruhi proses kita mendapatkan pasangan baru. Belum move on membuat kita membandingkan setiap orang yang datang kemudian dengan masa lalu kita. Tapi, ada yang justru ingin cepat-cepat punya pacar dengan alasan supaya cepat move on. Itu seperti menjadikan hatinya seperti barang yang bisa dengan mudah dipindahin. Mindahin hati seperti pindah kos-kosan. Ketergesaan yang seperti ini justru sering kali menambah masalah baru dalam hidup.

Move on itu bukan melupakan. Move on itu masih ingat tanpa terluka. Ya, diterima dulu kalau kamu memang sedang dan telah terluka. Lalu, maafkan dirimu sendiri karena pernah bodoh percaya sama janji palsu. Sabar sama dirimu dan hatimu. Jangan terburu-buru, semua butuh waktu. Kalau memang masih butuh menyembuhkan luka ya, sembuhkan dulu. Jangan mengharapkan orang lain akan menyembuhkan lukamu. Sebab, lukamu itu adalah tanggung jawabmu.

Iya ya, namanya remaja kadang hobinya terburu-buru kalau ambil keputusan. Terus, ada yang tanya tentang permasalahan keluarga nggak, Kak?
Ada, beberapa yang datang ke aku dengan kasus hubungan dengan orang tua yang nggak pernah baik. Biasanya karena dipaksakan untuk ikut keinginan orang tua, sedangkan mereka memiliki keinginannya sendiri. Ini terjadi karena biasanya orang tua memiliki citra anak ideal adalah yang a, b, c. Anak pun sebenarnya juga punya citra orang tua ideal itu a, b, c. Ketika citra ideal ini tidak mengalami titik temu di antara orang tua dan anak, orang tua menjadi kecewa kepada anak, dan anak merasa nggak dimengerti orang tuanya sehingga perlu adanya kompromi.

Anak perlu menerima bahwa orang tuanya tidak sempurna, pun orang tua juga semestinya berlaku demikian kepada anaknya. Tuntutan orang tua yang terlalu tinggi kepada anak sering kali membuat anak merasa menjadi manusia yang gagal. Lalu, orang tua yang memiliki tipe otoriter seperti itu akan menjadikan anak yang tidak terbuka, baik kepada orang tuanya maupun kepada lingkungan di sekitarnya. Selain itu, ada lagi kasus anak yang menjadi korban KDRT dari orang tuanya.

Dok. Siti Fata

Sedih ya, ketika anak dianggap sebagai manusia yang gagal. Ada saran nggak Kak, supaya orang tua dan anak, khususnya yang telah remaja, bisa saling memahami?
Dengan menyadari bahwa orang tua atau anak adalah manusia biasa, tidak ada yang sempurna, akan membuat kita lebih bisa memaklumi jika orang tua atau anak berbuat salah. Orang tua juga mesti menyadari anak itu punya keinginan, punya jalan hidup, dan definisi bahagia yang berbeda dengan orang tuanya. Penting untuk memahami bahwa menjadi remaja bukanlah hal mudah. Mereka anak kecil bukan, orang dewasa juga bukan. Makanya banyak remaja yang bingung sama kondisi dirinya. Nah, tugas orang tua adalah mendukung si anak menemukan ‘dirinya’ selama itu tidak berbahaya.

Ada yang datang ke Kakak dalam kondisi tertekan atau depresi nggak?
Iya, beberapa datang dalam kondisi depresi. Kalau sudah begitu, biarkan mereka meluapkan apa pun yang ada di dalam dirinya. Tidak perlu dibantah atau dinasihati. Pahami bahwa apa yang mereka alami sungguh melelahkan. Dengan cara seperti itu, mereka akan yakin padaku. Setelah mendapatkan kepercayaan itu, baru pembacaan tarot bisa dimulai. Bahkan beberapa dari mereka datang bukan untuk mendapatkan solusi atau nasihat sebab mereka merasa lebih membutuhkan dukungan dan pelukan.

Ada pengalaman yang menarik nggak Kak, selama berhadapan dengan remaja-remaja ini?
Wah, ada banyak pengalaman yang mengesankan. Misalnya, seorang remaja usia 18 tahun rela diperlakukan kasar oleh pasangannya. Alasannya adalah karena dia takut kalau diputuskan hubungannya dengan si pasangan, sebab nanti waktu prom night dia nggak punya pasangan. Untuk meyakinkan dia bahwa apa yang dia korbankan nggak setara dengan apa yang dia dapatkan itu lumayan berat. Apa lagi meyakinkan bahwa dia bisa lebih bahagia tanpa pasangan.

Ada juga cerita dari seorang anak yang hampir bunuh diri. Setelah didengarkan ceritanya, ternyata karena ayahnya berselingkuh, ibunya menjadi depresi. Kemudian si ibu justru melampiaskan kemarahannya kepada anak sehingga anaknya tidak sanggup menanggung beban lagi. Ketika orang tua memiliki masalah, sebenarnya anak yang menanggung beban ganda.

Wah, antara serem dan menarik ya, pengalaman Kakak. Terakhir nih, Kak, kasih saran dong buat remaja di luar sana yang masih galau karena tidak percaya dengan dirinya sendiri berdasarkan pengalaman Kakak membaca tarot untuk remaja.
Jangan membandingkan hidupmu dengan orang lain. Sabar dengan diri sendiri. Kalau kita bisa memaafkan dan toleransi dengan kesalahan orang, masa kita nggak bisa begitu sama diri sendiri?

Terima kasih banget ya, Kak, sudah mau kuwawancara. Semoga wawancara ini bisa menjawab sedikit tentang kegelisahan kita tentang remaja, ya!
Hahahaha. Iya, sama-sama. Senang bisa membantu!

Demikianlah percakapan saya dengan Kak Danik. Seru juga ya, setelah tahu kalau ternyata dengan pembacaan tarot, ada banyak remaja di luar sana yang terbantu untuk mengatasi permasalahannya di saat orang tua mereka tidak ikut mendukung. Ternyata, pembacaan tarot tidak semenyeramkan yang diduga selama ini, ya! Semoga percakapan kami bisa membantu siapa pun remaja yang membaca tulisan ini untuk memahami dirinya sendiri dan juga sekelumit persoalan yang dialami oleh para remaja.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: TAROT READING: TREN BARU REMAJA UNGKAPKAN KEGELISAHANNYA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/tarot-reading-tren-baru-remaja-ungkapkan-kegelisahannya/