TEMANKU LIMA BENUA: BERANGKAT DARI APA YANG ADA DAN BISA

 In Ngobrol
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Ismi Rinjani

“Liben, nanti share lokasi rumahmu, ya!”

Saya mengirim pesan lewat WhatsApp kepada seorang seniman muda asal Klaten untuk janjian temu wawancara. Alih-alih mengirim titik lokasi menggunakan Google Maps, ia mengirim gambar peta rumah bikinannya sendiri yang dibuat di atas papan tulis berwarna hitam dengan coretan warna-warni. Unik, impresi pertama saya kepadanya.

Temanku Lima Benua adalah seorang seniman muda sekaligus pelajar kelas XI di SMAN 3 Klaten. Di umurnya yang masih 16 tahun, Liben, begitu sapaan akrabnya, bersama Yayasan Air Mengalir sudah menginisiasi diselenggarakannya Klaten Biennale 2017 Seri-1. Pameran seni kontemporer tersebut melibatkan sekitar  30-an seniman se-Jawa. Ke depannya, Klaten Biennale akan bekerja sama dengan seniman-seniman seluruh Indonesia, ASEAN, dan bahkan Asia.

Sesampainya di Dukuh Geritan, Desa Belang Wetan, Klaten, saya agak kelimpungan mencari alamatnya. Setelah berputar-putar selama 15 menit, akhirnya saya menyerah dan bertanya kepada ibu-ibu pemilik warung. Mendengar nama Lima Benua, beliau langsung meninggalkan dulu pembelinya dan menunjukkan rumah yang kami cari-cari. “Di sana, Mbak. Tuh, ada tulisannya besar-besar,” ujarnya dengan sedikit berteriak. Dari kejauhan terpampang tulisan berhuruf besar “Ruang Publik Lima Benua”. Saya pun pamit dan menuju ke sana.

Liben sudah menunggu di depan gerbang. Remaja perempuan ini menyalami saya dengan genggaman yang kukuh. “Ayo masuk, Mbak,” sapanya ramah. Kami pun memasuki kawasan rumahnya yang lebih mirip dengan studio seni. Di gang-gangnya dipenuhi dengan kanvas, baik kanvas kosong maupun sudah terisi. Patung-patung berjajar rapi seolah menyambut siapa saja yang datang ke sana. Liben mengajak saya berkeliling melihat aktivitas seni di ruang yang diberi nama Ruang Publik Lima Benua.

Dalam wawancara kali ini, Liben bercerita banyak soal proses perancangan Klaten Biennale, hubungan seni dan anak muda, hingga pengalamannya belajar menggambar di Pasar Klaten. Simak, yuk!

Dok. Ismi Rinjani

Liben, gimana sih ceritanya kamu bisa jadi direktur Klaten Biennale?
Pertama, kan di Klaten itu cuma ada pameran sama festival. Nah, saya sama generasi muda, seniman-seniman jalanan, pengin bikin dobrakan baru, yaitu bikin biennale. Jogja bisa buat biennale, Jakarta bisa buat biennale. Ya, Klaten juga mestinya bisa dong, bikin biennale. Inspirasi kita, anak-anak muda, bikin biennale itu adalah Ir. Soekarno. 63 tahun yang lalu, Soekarno itu bisa bikin Konferensi Asia Afrika (KAA). Masa anak muda sekarang nggak bisa buat Klaten Biennale versi Asia.

Di Klaten itu yang masih diperhatikan seni yang statis, yang dinamis tuh belum. Misalnya yang diperhatiin cuma wayang, terus tari gambyong, pokoknya yang tradisional-tradisional gitu. Padahal kan, anak muda sekarang harus diikutin. Mereka udah dinamis, progresif, gitu. Kalo nggak bisa diikutin gitu kan jadinya nggak nyambung. Kok seni kontemporer itu nggak diperhatiin sih sama pemerintah? Jadi kita membuat wadah. Ya, di gang itu (sambil menunjuk ke gang yang kiri-kanannya penuh dengan karya).

Jadi idenya pure dari anak-anak muda? Yang tua nggak ikutan?
Iya. Bukan dari orang tua, tapi dari seniman-seniman jalanan yang suka nggambar di tembok-tembok itu. Rata-rata udah kuliah.

Terus pas Klaten Biennale pertama kemarin, kamu kerja samanya sama seniman-seniman seperti apa sih?
Yang pertama kemarin tuh kerja sama sama seniman se-Jawa. Kebanyakan anak-anak muda yang belum punya wadah ekspresi. Jadi promosi ke temen-temennya, saya bilang Klaten mau ngadain biennale. Siapa yang mau ikut berpartisipasi, ikut berperan. Untuk tahun depan, rencananya akan kerja sama dengan seniman se-Indonesia. Dua tahun berikutnya, sama seniman se-ASEAN. Terus sama seniman se-Asia-Oceania, gitu. Jadi perencanaannya baru untuk delapan tahun ke depan.

Gimana animo masyarakat sekitar pas biennale kemarin?
Kalau dari masyarakat sini, mereka seneng. Saya biasanya promosi pakai gerobak sambil mentungin tong sampah, keliling kampung sambil teriak, “Besok pameran, besok pameran!” Terus mereka pada jawab, “Oh ya, saya dateng, saya dateng!” Pas di biennale, mereka juga bilang, “Wah, Klaten juga bisa Instagrammable ternyata.” Pikiran masyarakat Klaten masih sebatas soal foto selfie (di depan karya). Tapi ya nggak apa-apa. Kami juga sambil ngasih edukasi, ini karyanya jangan disentuh, dan lain-lain.

Selain itu, kami juga ingin menyadarkan masyarakat bahwa biennale itu perayaan bersama, bahkan semacam kebutuhan juga. Mereka butuh lihat cermin budaya hari ini lewat biennale.

Kalau di Jogja atau Jakarta, biennale kan peristiwa seni yang penting dan di-handle sama orang-orang seni yang udah senior banget. Kayak Butet Kertaradjasa, Ade Darmawan, dan Alia Swastika. Sempat ada tekanan nggak pas kamu ngurusin Klaten Biennale?
Pertama, dalam komunitas kan yang utama diperluin itu sumber daya manusia. Nah, di Klaten ini tuh nggak ada yang mau duduk lama di biennale. Jadi, saya yang mau gitu. Sebenarnya saya ingin memacu motivasi bagi seniman-seniman yang mungkin umurnya di atas saya. Ayolah, aku mau gitu, loh. Anak muda harus bangun. Harusnya mereka terpacu. Di Klaten Biennale sendiri ini kekurangan orang. Yang duduk tetap di biennale itu cuma dua; saya dan Om Totok. Om Totok itu yang buat katalog. Kami berkomitmen bahwa Klaten Biennale harus berjalan. Seniman di Klaten itu banyak, Mbak. Tapi ya itu, pada minggat ke Solo, Jogja, Jakarta. Kadang-kadang pada nggak mau balik lagi.

Menurut kamu, kenapa seniman-seniman ini nggak mau menetap di Klaten?
Karena ekosistemnya belum terjalin. Belum ada benang merah antara seniman, pemerintah, dan apresiator. Terkadang juga ada kesenjangan antara seniman tua dan seniman muda. Tapi itu sekarang udah bisa diatasi. Tapi masih ada masalah lagi, sama pemerintahnya. Nanti urusan pemerintahnya selesai, ada masalah lagi, sama apresiatornya; ya kolektor, kurator, dan masyarakat umum. Masyarakat Klaten sendiri belum terbiasa ada acara kayak biennale. Pameran seni rupa pun jarang di sini. Yang udah ada paling pameran Pasren (Paguyuban Seni Rupa Klaten) sama Klaten Street Art.

Di pra-biennale kemarin tuh yang kita tekankan gotong royong. Saya dan temen-temen tuh ngambilnya dari Bineka Tunggal Ika. Jadi menghikmati Bineka Tunggal Ika itu bukan hanya toleransi dan berbeda-beda tapi satu jua. Di situ juga sebenernya ada gotong royong. Gotong royong di sini maksudnya adalah antara seniman tua dan muda. Terus gotong royong sama pemerintah. Dan akhirnya sama apresiator. Ekosistem yang baik itu kesadaran untuk saling bantu. Kami sedang berusaha untuk membentuk ekosistem yang baik di sini.

Untuk Klaten Biennale ini, kamu konsultasinya sama siapa aja sih?
Sebelum bikin biennale, saya konsultasi ke Kedai Kebun Forum di Jogja, dikasih buku sama Pak Agung, saya baca. Terus saya ke Cemeti Art Space, dikasih buku juga, saya baca. Ke Ruang Rupa di Jakarta juga saya ngobrol-ngobrol soal ini. Sama saya liat YouTube, karena kan zamannya anak muda (sambil tertawa).

Buku apa aja sih yang dikasih mereka?
Biennale Jogja, Art Jog, dan hasil-hasil residensi seni di beberapa tempat.

Kamu ngelihatnya gimana sih, hubungan antara seni sama anak muda?
Hubungan seni tuh sangat erat sama anak muda. Terutama di pembentukan karakternya. Sebenernya seni itu selalu dibawa ke mana-mana, udah ada di kehidupan masing-masing individu. Seperti pakaian dan sebagainya. Tapi ya itu, kalo penggiatnya nggak dinamis dan progresif, nanti nggak bisa ngikutin anak mudanya.

Misalnya aja tari, ya. Kalau Tari Bedoyo, saya sama temen-temen saya belajar ya pas mau ada ujian praktik. Kalau enggak ya nggak belajar. Tapi kalau Tari Korea, itu belajar sendiri, nggak usah disuruh. Nah itu, apa ada yang salah ini? Contoh lainnya Wayang Sriwedari, harga tiketnya Rp10.000,00, nggak habis-habis tuh tiketnya. Tapi lihat konser penyanyi Korea di Jakarta, dalam beberapa menit, tiketnya udah habis. Nah kenapa yang dari Korea itu dinamis? Ya karena mereka bisa merepresentasikan anak muda, gitu. Berarti harus dipikirin metodenya, gimana anak muda ini bisa tertarik.

Jadi cara pendekatan ke anak mudanya mesti inovatif supaya mereka bisa tertarik untuk belajar seni, ya?
Iya, Mbak.

Seniman muda panutanmu siapa sih, Ben?
Heri Pemad, direkturnya Art Jog.

Menurut kamu, pengetahuan anak muda soal seni tuh gimana sih? Misalnya di sekolah diajarin apa aja?
Jadi kan ini ngikutin kurikulum menterinya. Kalau di sekolah, jadinya sesuai sama sumber daya manusia yang ada. Kalau adanya guru seni tari, ya mata pelajarannya seni tari. Kalo yang ada guru seni rupa, belajarnya soal seni rupa. Jadi kadang tuh suka ganti-ganti. Itulah yang membuat kebingungan, ya. Satu belum selesai, tiba-tiba dipindah ke seni yang lainnya.

Jadinya malah keputus-putus gitu, ya, belajarnya? Terus kamu belajar banyak soal seninya di mana?
Di Jalanan. Saya tuh belajar nggambar tuh di pasar kok, Mbak. Di Pasar Klaten situ. Jadi saya ke pasar tuh liatnya bukan jual beli, tapi wajah-wajahnya. Orang pasar itu apresiasinya malah kelihatan. Mereka mau berdiam diri dua menit, saya gambar. Terus mereka seneng, jadi satu gambar tuh diputerin sampai ke ujung pasar. Jadinya pada mau digambar semua. Nanti kalau dia suka, dikasih pisang, dikasih jeruk. Es teh separo gratis nggak apa-apa (sambil tertawa). Selain di pasar, di trotoar. Selain itu, saya juga ngamen di Car Free Day Klaten, nyeket wajah orang-orang. Lumayan, sejam dapat Rp200.000,00. Sambil ngamen, sambil belajar, dapat uang jajan tambahan juga.

Selain bikin gambar dan sketsa, bidang seni apa lagi yang kamu suka?
Saya suka teater, tapi belum mateng. Sama suka bantu-bantu bikin patung juga. Kalau nyanyi, nanti pecah semua kacanya (sambil tertawa). Pada pergi semua penontonnya. Tapi saya suka menikmati semuanya, kok.

Punya cita-cita khusus untuk berkarier di bidang seni, nggak?
Saya pengin kayak Ibu Yustina Neni. Bu Neni itu kan berhasil, ya. Dia pernah lama jadi direktur Biennale Jogja dan sukses juga acaranya. Walaupun dia dulu kuliahnya bukan di fakultas seni, ya. Tapi dia mau terjun, gitu.

Terus dalam hal berkesenian, orangtua kamu mendukung?
Mendukung, dua-duanya mendukung.

Sebagai pelajar, gimana caranya kamu bagi waktu antara belajar atau ngerjain tugas dari sekolah sama berkesenian?
Kalo saya sih, saya sambungin. Kan, di buku pelajaran di sekolah, di buku paketnya, ada tata cara buat pameran, bikin karya seni, ada juga ekonomi makro dan mikro, nah itu saya praktikin langsung. Diaplikasikan dalam bikin acara seperti biennale. Misalnya negosiasi, saya praktikin pelajaran yang dari buku aja. Misalnya negosiasi kayu untuk frame, itu kan ada di pelajaran ekonomi. Untuk kuratorial, belajar dari pelajaran sejarah. Disambung-sambungin aja caranya.

Dok. Ismi Rinjani

Ceritain dikit dong, soal Ruang Publik Lima Benua ini! Kegiatannya apa sajakah?
Ruang Publik Lima Benua ini wadah berkeseniannya seni kontemporer, khususnya untuk yang di Klaten. Tapi seniman-seniman dari daerah lain juga boleh ikut, sih. Di sini tuh kami mendukung seniman untuk bisa kritis terhadap fenomena sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Gimana setelah kritis itu mereka bisa menuangkan dalam bentuk karya. Kami di sini memfasilitasi, mulai dari ruang, kanvas, cat, frame, dan lain-lain. Selain itu, kami juga mengadvokasi dan memprovokasi senimannya. Ayolah kita harus bangkit, kita kan, masih muda.

Pendirinya siapa aja?
Ruang Publik Lima Benua ini bikinan saya sama temen-temen. Banyaknya anak jalanan. Ada Fian, Bagas, terus Nanang. Kami mencoba untuk independen. Kalo lagi perlu cat atau kuas, kami tuh suka nungguin diskon di depan toko catnya. Nunggu sampai 50% (sambil tertawa). Kadang-kadang juga suka ngutang. Untung ibu yang punyanya baik.

Saya dan temen-temen itu berangkat dari apa yang ada dan bisa. Contohnya kalau ada tukang rongsokan lewat, suka kami berhentikan. Terus nanya, ada kardus bekas nggak? Ada besi bekas nggak? Itu semua modal buat kami berkarya.

Berangkat dari apa yang ada dan bisa! Mantap! Oh ya, aku penasaran, arti nama Temanku Lima Benua tuh apa sih?
Itu doa biar temennya banyak. Yang ngasih nama itu Bapak sama Pak W.S. Rendra.

Kayaknya udah kebukti kalau itu, ya. Kamu temennya ada di mana-mana. Nah, kalo ada kesempatan untuk memilih, siapa 3 seniman yang ingin kamu ajak pameran bareng?
Pak Hanafi, Pak Gunawan Muhammad, dan Butet Kertaradjasa.

Terakhir Ben, apa pesan untuk remaja lain di seluruh Indonesia?
Anak muda itu harus dinamis dan progresif!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: TEMANKU LIMA BENUA: BERANGKAT DARI APA YANG ADA DAN BISA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/temanku-lima-benua-berangkat-dari-apa-yang-ada-dan-bisa/