VILLY WANG DAN PERJUANGANNYA MELALUI BAYCAT

 In Liputan
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Ismi Rinjani

Angin dingin bulan Agustus begitu tegas menerpa wajah. Padahal ini adalah musim panas, namun suhu yang tertera di gawai saya adalah 12°Celcius. Kota San Francisco, California, memang beriklim sejuk sepanjang tahun. Akan tetapi, kehangatan senantiasa ditawarkan oleh cerita-cerita unik di dalamnya. Termasuk hari itu, ketika saya berkesempatan mewakili Yayasan Kampung Halaman dan Berisik.id dalam program Exploring Social Innovation yang diselenggarakan oleh Volunteers in Asia untuk mengunjungi sebuah social enterprise bernama Bayview Hunters Point Center for Arts and Technology (BAYCAT) yang menyediakan pendidikan media digital gratis bagi anak-anak dan remaja yang kurang beruntung di San Francisco.

Dok. Ismi Rinjani

BAYCAT didirikan pada tahun 2005 oleh seorang perempuan bernama Villy Wang yang dibesarkan oleh ibunya yang merupakan seorang imigran dari Tiongkok dan buruh pabrik di Amerika Serikat. Model baru organisasi nirlaba sekaligus bisnis ini ia kembangkan untuk menjawab ketidaktersediaannya ruang di bidang teknologi dan digital media bagi kaum muda yang berpenghasilan rendah dan pemuda-pemudi dengan kulit berwarna di daerah Bay Area, San Francisco. Villy Wang ingin menyediakan akses pendidikan sekaligus lapangan kerja bagi mereka. Sebagai akademi, BAYCAT memberi pelatihan gratis pembuatan video diary, produksi TV&film, audio&produksi musik, animasi, dan desain web/grafis. Terdapat pula studio profesional BAYCAT yang menerima “pesanan” produksi video, branding, dan desain grafis bagi para klien yang biasanya juga berperan sebagai donor untuk operasional akademi.

Pada tahun ke-12 BAYCAT berdiri, mereka telah mendidik lebih dari 3.250 siswa, mempekerjakan lebih dari 150 orang anak muda, dan program magangnya menempatkan 88% lulusan di perusahaan yang berkaitan dengan media seperti SF Giants Productions, Netflix, Wired, HBO, LucasFilm, dan tim siaran Golden State Warriors.

Di sudut kantor BAYCAT dengan latar sebuah ilustrasi bergambar remaja perempuan yang sedang membidik kamera, Villy Wang yang berkacamata warna merah jambu mencolok dan syal berwarna senada bercerita mengenai awal mula ia memiliki ide untuk mendirikan BAYCAT. “Di hari minggu yang cerah, saya yang kala itu masih berumur 7 tahun sedang berada dalam sebuah lift bersama ibu saya di apartemen daerah Lorry Side, New York. Lalu tiba-tiba saja dua orang remaja berkulit hitam mencegat kami di dalam. Masing-masing dari mereka membawa pisau di tangannya. Salah seorang dari mereka menempelkan pisau di tenggorokan saya. Saya benar-benar ketakutan kala itu. Label “black demons” pun kami lekatkan pada mereka. Mengapa mereka memilih kami sebagai korban? Apakah karena mereka menganggap kami imigran dari China, sebagai manusia yang pendiam dan pemalu? Kejadian ini telah terjadi berpuluh tahun yang lalu. Namun lama kelamaan saya sadar, rasa takut dan pelabelan tersebut adalah salah satu bibit dari stereotip dan rasisme.”

Ia pun melanjutkan, “Bertahun hidup dari satu stereotip ke stereotip lain membuat saya akhirnya bertanya, bagaimana saya bisa mendobrak siklus ini. Saya pun berusaha keras dalam pendidikan hingga berhasil masuk jurusan Teknik di salah satu universitas Ivy League. Pada umur 20 tahun, saya sudah bekerja di Wall Street lalu kemudian bekerja di sebuah firma hukum. Saya merasa sudah mendobrak stereotip imigran China yang pendiam dan pemalu. Saya merasa sudah sukses. Namun, saya pun merasa semakin jauh dengan kaum minoritas tempat saya berasal. Saya harus bisa membuat suara mereka didengar.”

Dok. Ismi Rinjani

Tahun 2004, Villy Wang meninggalkan pekerjaannya dan mulai merancang pendirian BAYCAT. Ia ingin mendampingi, memberdayakan, dan memberikan ruang berkarya bagi anak-anak muda yang memiliki akar sejarah yang sama dengannya. BAYCAT percaya cerita milik semua orang itu penting dan bermakna. BAYCAT membayangkan sebuah dunia yang media dan teknologinya menyediakan ruang seluas-luasnya untuk berbagi cerita dari berbagai latar belakang dan pengalaman, dengan tujuan untuk mendorong terciptanya perubahan positif dalam komunitas mereka. Tentu saja, juga untuk mendobrak stereotip yang selama ini melekat dan mendarah daging.

Iman Rodney (19 tahun), seorang remaja lelaki keturunan Afrika-Amerika menyebutkan bahwa sejak berkenalan dan masuk akademi BAYCAT, ia merasa telah menemukan rumah dan suaka tempat ia berlindung dan belajar. Kini, Iman telah bekerja sebagai salah satu videografer di klub baseball San Francisco Giants. BAYCAT membantunya menemukan passion dan meningkatkan skill-nya di bidang videografi. Dengan kemampuannya, ia pun bisa menyuarakan apa yang menjadi pergulatan dan problem-problem yang dihadapi komunitasnya di salah satu tempat termiskin di San Francisco.

Di akhir pertemuan, Villy Wang menyampaikan pesan untuk remaja di Indonesia.

Anak muda di seluruh Indonesia, kalian mempunyai audiens di seluruh dunia. Jangan takut untuk bercerita tentang kisah kalian. Kami ingin mendengar. Jadi, jangan takut. Cerita kalian penting untuk didengar!

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: VILLY WANG DAN PERJUANGANNYA MELALUI BAYCAT!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/villy-wang-dan-perjuangannya-melalui-baycat/