WAYANG KLITIH DAN PROTES-PROTES DI DALAMNYA

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Dok. Michael Winanditya

Sorotan cahaya warna-warni memantul di seperangkat gamelan yang sudah berjajar rapi di atas panggung. Bentangan layar dan puluhan wayang kulit telah tertancap pertanda siap dimainkan. Hujan baru reda setelah seharian mengguyur Yogyakarta. Namun, antusiasme para penggemar wayangan tak surut. Anak kecil, remaja, dan para lanjut usia berkumpul beramai-ramai di halaman GOR Segoro Amarto, Demakan, Yogyakarta.

Malam itu, kelompok seni Wayang Klitih menampilkan lakon Ramayana dengan tajuk “Shinta Protes”. Ini adalah kali kedua mereka pentas dan masih ada 12 kali pertunjukan lagi di 12 wilayah berbeda di Yogyakarta. Wayang Klitih adalah sebuah pementasan wayang kontemporer yang memadukan antara spirit wayang tradisional dan spirit eksplorasi anak muda di setiap penampilannya. Berbeda dari pementasan wayang biasanya, anggota Wayang Klitih hampir seluruhnya adalah anak muda. Gamelan dipadukan dengan beat box? Kita bisa menikmatinya di sini. Tarian kontemporer dengan pesan perdamaian? Wayang Klitih pun menghadirkannya. Secara keseluruhan, penampilan Wayang Klitih pada malam itu sangatlah menghibur. Buat anak muda seperti saya yang jarang sekali menonton wayang, Wayang Klitih adalah alternatif tontonan baru. Paket komplit deh, pokoknya!

Saya yang mewakili Berisik.id pun berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Sigit “Gembyeng” Tri Purnomo, dalang muda yang masih berusia 18 tahun ini sehabis pementasan. Simak yuk, wawancaranya!

Selamat malam, Git! Boleh diceritain nggak gimana asal-muasal terbentuknya Wayang Klitih ini?
Wayang Klitih itu kan terbentuk dari isu-isu yang lagi booming sekarang di Jogja itu lho mbak. Kan di Jogja tuh banyak anak muda, remaja, yang kurang gawean, keliling terus nglitih, mbacok orang. Nah, kami sekumpulan anak-anak muda ini ingin menghapus isu-isu itu. Yang membesar-besarkan kan sebenernya media, semuanya di-ekspose. Terus anak muda ini penasaran, apa to klitih ki? Itu langsung dia nyoba-nyoba, kayak gitu. Jadinya kalo ada anak-anak muda ngumpul itu dicapnya negatif. Nah, Wayang Klitih ingin menghapus semua itu. Kami ingin membuktikan kalo anak muda nggak kayak gitu kok, anak muda itu punya prestasi, punya bakat, punya wawasan tersendiri yang bisa dituangkan dalam karya seni sama hal-hal yang bermanfaat lainnya.

Mantap! Kalo anggota Wayang Klitih tuh dari mana aja, Git? Semuanya pelajar?
Anggota Wayang Klitih pelajar semua, masih SMA semua. Kalo saya dan temen-temen juga dari SMKI, terus ada yang dari Mumo, Muhamadiyah Limo, SMK Jetis, SMK 2 Sewon, dan lain-lain. Pokoknya dari SMA & SMK di seluruh Jogjakarta, mbak.

Terus, siapa yang mempersatukan kalian semua?
Yang mempersatukan kami tuh, Mas Marwan dari komunitas seni Tritura. Kami semua dipanggil, dikumpulin, lalu kita nggodok ide-ide mau bikin pementasan apa. Akhirnya diputusin bikin pementasan wayang. Terus saya ngusulin, “gimana kalo kita ngasih nama Wayang Klitih aja?”, Mas Marwan jawab “yowis, ra popo.” Akhirnya ya dipakai terus sampai sekarang ini.

Nah, di lakon Ramayana yang kamu tampilkan bareng Wayang Klitih, judulnya kan “Shinta Protes”. Protes soal apaan tuh?
Jadi gini, sebenernya kan Shinta itu tokoh yang jujur. Dia jujur nggak pernah ngapa-ngapain sama si Dosomuko (Rahwana) ini. Tapi dari Rama sendiri, menuduh Shinta ngelakuin yang aneh-aneh, lah. Soalnya dia udah lama jauh dari Shinta, toh. Shinta akhirnya nuntut dan protes sama Rama, apa bener waktu dia jauh dari Shinta (karena Shinta diculik Rahwana) juga nggak ngapa-ngapain? Kan, nggak tahu juga, sebenernya Rama tuh setia atau nggak. Shinta protes, lah. Nggak mau juga dituduh hal-hal yang nggak dia lakuin.

Hmmm. Jadi ceritanya sedikit beda sama lakon Ramayana yang biasanya, ya. Di sini Shinta punya hak untuk membela diri dan protes sama Rama, ya?
Iya, Mbak. Di cerita aslinya juga kan Shinta nggak mati saat diobong (dibakar) untuk membuktikan kesuciannya. Tetapi di lakon yang saya buat, Shinta-nya mati pas diobong. (Mati dalam filsafat Jawa bukan akhir dari kehidupan, tetapi pintu awal menuju kesempurnaan di alam kekal. Karena Shinta masih suci, maka dipercepatlah proses itu. Dalam pertunjukan “Shinta Protes” ini, di abu bekas jasad Shinta tertancap dua gunungan untuk menyimbolkan bahwa sukma Shinta menuju alam kelanggengan dan dari abu jasadnya pula muncul kehidupan semesta.)

Itu semua ceritanya kamu buat sendiri atau dapat saran dari yang lain?
Semuanya real saya sendiri yang buat. Saya sebenernya kan sekolah di jurusan karawitan, jadi sering ikut nabuh pas ada wayangan dengan lakon Ramayana. Terus saya kepikiran, kenapa sih, Shinta doang yang digugat, padahal kan belum tahu Rama di belakangnya kayak gimana. Jadi saya masukin hasil renungan saya sendiri ke lakon Ramayana versi Wayang Klitih ini.

Keren deh, sudut pandang ceritanya juga jadi makin kaya, Git. Nah, sekarang aku mau tanya-tanya soal latar belakang dunia perdalanganmu. Sejak kapan sih, kamu belajar mendalang?
Sebenernya saya belajar ngedalang tuh udah dari kelas 3 SD. Mbah saya juga kan dalang. Saya sering diajak beliau mendalang, jadi saya sering juga main-main sama wayangnya. Nah, terus di situ ketemu sama orang dinas. Saya ditanya, “kamu anaknya siapa?” Terus saya temuin dia sama bapak saya. Akhirnya saya diundang mereka dan dibiayain sekolah ndalang di Kasongan.

Terus, kan jarang nih remaja seusiamu yang suka sama wayang, apalagi ngedalang. Gimana caranya supaya meraka mau kenal dan nonton wayang?
Itu makanya kami mengemas Wayang Klitih buat anak muda, Mbak. Kan, kami juga udah buat video-video soal Wayang Klitih yang bisa diakses sama anak muda. Semoga pas mereka nonton itu jadi tergugah hatinya juga untuk bisa mencintai wayang dan ninggalin klitih-klitihan itu.

Siapa dalang panutan atau inspirasimu selama ini?
Kalo saya sendiri sampai sekarang masih ngefans sama Ki Manteb Soedarsono dan Ki Enthus Susmono.

Nah, cita-cita besarmu sebagai dalang itu apa?
Pengen menyaingi Ki Manteb Soedarsono dan Ki Enthus Susmono. Hehehe.

Widiiih. Amin deh! Oh ya, buat kamu, bagian paling sulit saat mendalang tuh apa?
Buat saya, yang paling sulit tuh di bagian suluk atau vokal pakai nada-nada tertentu. Nah, itu saya sering lepas karena yang dipikir kan macem-macem tuh, Mbak. Abis ini harus gini, abis ini harus gitu. Paling sulit ya itu, vokal suara di suluk.

Lakon apa sih, yang paling kamu senengin di wayang?
Saya paling suka sama Shinto Suci ini dan Persembahan Seratus Raja.

Nah, kamu kan ikutan sekolah dalang sejak dulu, suka baca buku soal pewayangan nggak?
Suka, Mbak. Kalo nggak baca buku, ya buka youtube.

Buku favoritmu apa, sih?
Saya seneng ceritanya Gadjah Mada, ngefans banget deh sama beliau.

Jadi kamu senengnya baca sejarah juga, ya?
Iya, itu memperkaya dan memotivasi saya sendiri. Kan kalo jadi dalang harus mengerti banyak hal, dimulai dari sejarah, budaya, seni, politik, dan lain-lain. Saya pengin punya wawasan yang luas, Mbak.

Keren! Nah, abis beres SMA ini kamu mau lanjut ke mana?
Aku mau lanjut ke ISI, jurusan Pedalangan.

Wah, udah mantep mau jadi dalang ya?
Iya dong, Mbak. Tapi aku juga suka sama kegiatan seni lainnya, kayak karawitan, teater, seni tari, beat box, dan lain-lain.

Oke deh, semoga cita-citamu tercapai ya, Git! Nah terakhir nih, ada pesan buat temen-temen remajamu di luar sana?
Nggak perlu berkegiatan di kesenian juga sih, yang penting kegiatannya positif. Nggak neko-neko lah. Saya juga sebenernya nakal mbak. Maksudnya kalo dibilangin tuh suka nggak mau, punya pendirian sendiri. Tetapi, saya kalo sama orang tua ya wajib buat hormat. Ya pokoknya, berekspresi aja, tetapi yang positif!

Untuk mengenal lebih dekat dengan Wayang Klithih, langsung simak ke fanpage di bawah ini yak!

Fanpage Wayang Klitih: https://www.facebook.com/Wayang-Klitih-1895106470711741/

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: WAYANG KLITIH DAN PROTES-PROTES DI DALAMNYA!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/wayang-klitih-dan-protes-protes-di-dalamnya/