YAKIN NIH, HARUS MENGHARGAI?

 In Opini
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ketika seseorang masih merasa begitu sumpek dengan perasaannya saat menghargai orang lain, barangkali ia belum begitu paham dengan orang tersebut.

menghargai-yoga

Dok. Yoga Liberiawan

“Awalnya aku risih banget sama mereka. Segala prasangka buruk bermunculan di kepala. Waktu kunjungan ke Kefrateran terus disediakan makan siang. Coba bayangin! Gimana kalau piringnya itu bekas makan babi? Apa kabar dengan ke-wara’1))-anku?” katanya saat menceritakan awal mula bergabung dengan sebuah forum lintas iman.

Wid, begitu sapaannya, adalah seorang mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir yang dengan sengaja bergabung dengan forum lintas iman karena ada beberapa tokoh agama Islam panutannya yang turut andil dalam forum tersebut. Alasan lainnya adalah tentu saja ia ingin mengetahui secara langsung bagaimana mestinya bertoleransi itu.

“Aku tuh jarang banget boncengan sama cowok, nggak biasa aja. Eh, sekalinya dibonceng sama cowok ya, di sana (forum lintas iman), nonislam pula, kan. Ya, rasanya aneh lah, tapi aku mencoba biasa aja dengan hal-hal baru yang terjadi di sana.” lanjut Wid mengisahkan pengalamannya.

Bukan hanya pemahamannya tentang lintas agama yang berkembang, melainkan juga kesediaan Wid untuk menghargai setiap kebiasaan teman-temannya yang akhirnya dapat membuat dia merasa lebih mampu bernapas lega. Pikirannya yang sehari-hari penat akan prasangka buruk tentang bermacam gaya hidup akhirnya mampu berdamai dengan sendirinya. Hal itu bukan berarti ia mampu berteman dengan siapa saja, melainkan ia telah terbiasa melihat itu semua dengan sudut pandang yang lain. “Ya, merasa lebih bebaslah pikirannya,” tambahnya.

Hal lain terjadi dengan seorang teman perempuan yang aku temui di tempat makan. Ia mengaku dirinya begitu sentimen dalam arti positif ataupun negatif sehingga ketika ada orang yang berkehendak berbeda dengannya, ia bisa langsung membenci orang tersebut. Akan tetapi, saat orang tersebut tidak menyadari itu dan berbuat baik kepadanya, seketika itu juga kebenciannya hilang dan sikapnya kembali membaik seperti semula.

Aku bertanya apa yang terjadi ketika rasa benci itu muncul? Ia bilang sulit sekali untuk bisa produktif. “Ya aku malah nggak fokus belajarnya. Kalau aku biarin, dia nyalain musik yang keras…” keluhnya jika berada bersama temannya yang justru lebih fokus belajar ditemani musik dengan volume tinggi.

Seorang lainnya memilih menghargai perbedaan temannya dengan terang-terangan meninggalkannya. Hal itu bisa memberi keleluasaan untuk tetap berada dalam track yang didalami ataupun disukai masing-masing. “Kalau memang kita masih punya kesamaan, kan kita pasti bisa ketemu lagi…” terangnya kemudian. 

Menghargai dalam Psikologi
“To respect a person is not possible without knowing him; care and responsibility would be blind if they were not guided by knowledge.”

Erich Fromm dalam The Art of Loving

Ketika seseorang masih merasa begitu sumpek dengan perasaannya saat menghargai orang lain, barangkali ia belum begitu paham dengan orang tersebut. Memahami seseorang menurut Fromm berarti harus memiliki pengetahuan tentang bagaimana caranya memahami. Bentuk dari memahami bisa bermula dengan cara rasional atau irasional, atau mungkin mengandung unsur-unsur dari keduanya.

Lalu, apa yang terjadi ketika seseorang telah menghargai orang lain?

Pada kasus pertama yang dialami Wid, ia menghargai kebiasaan baru yang ia temui, dalam arti Wid menghargai dengan cara menyesuaikan dirinya. Mengarah pada perspektif psikologi sosial, seseorang menyesuaikan diri karena merasa bahwa perilaku orang lain memberikan informasi yang bermanfaat dan/atau karena ingin diterima secara sosial serta menghindari celaan. Cara tersebut kemudian membuahkan kemampuan berpikir yang lebih “bebas” kepada Wid dalam memandang sesuatu.

Selanjutnya, seorang teman yang justru merasa tersiksa dengan sikap menghargai yang ia lakukan dan malah menghadirkan rasa marah kepada temannya. Sumber dari rasa marah sebagaimana dikatakan oleh Sears dkk. adalah serangan atau gangguan dari orang lain. Merujuk pada hal itu, dalam psikologi sosial, seseorang yang marah tersebut berarti memandang sesuatu hal sebagai gangguan, bukan sebagai bentuk dari pemahamannya atas orang lain, atau bahkan atas diri sendiri yang jelas merasa terganggu dengan hal itu.

Terakhir adalah seorang laki-laki yang cukup berbeda dalam menghargai orang lain. Ia merasa justru dengan apa yang ia lakukan, tidak ada seorang pun yang terbebani. Hal itu searah dengan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yakni seseorang mampu mengaktualisasikan diri jika kebutuhannya akan penghargaan terpenuhi. Maslow membagi kebutuhan akan penghargaan menjadi dua tingkatan: rendah, yaitu kebutuhan menghargai orang lain; dan tinggi, yaitu menghargai diri sendiri. Yang paling siap mengaktualisasikan diri adalah yang telah mampu memenuhi kebutuhan penghargaan di tingkat tinggi. Dalam kasus terakhir, ia memilih meninggalkan temannya karena menghargai pilihannya sekaligus menghargai pandangan hidup/ pilihan orang lain.

Setiap perilaku memiliki motifnya masing-masing, begitu pula halnya dengan menghargai. Meskipun sama-sama menghargai, tapi dengan motif yang berbeda tentu akan memberikan dampak yang berbeda pula pada diri sendiri dan juga pada orang lain.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Simak yang lain Yuk!

CATATAN KAKI   [ + ]

1. usaha-usaha untuk tidak melakukan hal-hal yang bersifat syubhat (sesuatu yang diragukan halal-haramnya
X

Bagi konten ini dengan kawan

Hi, konten ini mungkin menarik untukmu: YAKIN NIH, HARUS MENGHARGAI?!
Buka tautan berikut:
https://berisik.id/yakin-nih-harus-menghargai/